Monday, 19 October 2026
Tidak ada banner untuk placement ini.

Bikin Merinding ! Wartawati Info Hukum Nur Islami Nyanyikan ‘Saat Pena Dipaksa Tumpul’ di Aksi Solidaritas Wartawan Bekasi

Bagikan berita :

BEKASI – Aksi damai solidaritas ratusan wartawan Bekasi Raya di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Kamis (15/10/2026), tidak hanya diwarnai orasi panas dan penyampaian aspirasi. Ada pemandangan berbeda yang bikin suasana haru dan merinding.

Di tengah teriknya aksi, seorang wartawati dari media Info Hukum yang tergabung dalam Forum Wartawan Bekasi Raya (FWBR), Nur Islami, tampil menyuarakan kritik terhadap penguasa lewat jalur musik Akustik menjadi musik pilihannya.

Nur Islami tidak datang sendiri. Ia hadir bersama sang suami, Anwar Sanusi yang biasa disapa Uchi, ikut berbaur bersama ratusan wartawan dari berbagai organisasi dan media yang menuntut penghormatan terhadap profesi wartawan.

Dengan suara lantang dan gitar akustik, Nur Islami membawakan lima lagu. Satu lagu di antaranya adalah karya ciptaannya sendiri yang berjudul ‘Saat Pena Dipaksa Tumpul’, dan empat lagu legendaris milik Iwan Fals yakni Bento, Bongkar, Tikus Kantor, dan Kemesraan.

Lagu ‘Saat Pena Dipaksa Tumpul’ menjadi penampilan paling menyentuh. Liriknya bercerita tentang perjuangan wartawan yang kerap dihalangi, direndahkan, dan dipaksa diam saat menjalankan tugas jurnalistik.

Melalui lagu tersebut, Nur Islami menyuarakan isi hati para pejuang berita.

“Menurut saya, wartawan itu bekerja dengan tenaga, pikiran, dan hati nurani untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Karena itu profesi wartawan seharusnya dihormati, bukan direndahkan atau dihalangi,” ujar Nur Islami di sela aksinya pada media.

Tak hanya bernyanyi, wartawati Info Hukum ini juga menitipkan pesan menohok untuk para penguasa.

“Untuk para penguasa, ingatlah, jangan terbang terlalu tinggi. Sebab, ketika jatuh, rasanya akan sangat sakit. Jangan sakiti para pejuang berita karena kami bekerja keras dengan keringat dan hati,” tegasnya.

Ia menyoroti ketimpangan antara besarnya pengorbanan wartawan di lapangan dengan penghargaan yang mereka terima. Menurutnya, kerja jurnalistik bukan pekerjaan ringan, butuh tanggung jawab besar demi menghadirkan informasi yang berimbang untuk publik.

Kehadiran Nur Islami di panggung aksi solidaritas itu menjadi simbol bahwa perlawanan wartawan tidak selalu harus dengan amarah, tapi bisa juga dengan karya dan seni.

Di akhir penampilannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada rekan-rekan seprofesi yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan solidaritas.

“Untuk teman-teman, terima kasih atas energi, waktu, dan kasih sayangnya hari ini. Tetap semangat memperjuangkan marwah pers. Salam satu pena,” tuturnya disambut tepuk tangan ratusan wartawan.

Aksi yang digagas FWBR ini sendiri merupakan buntut dari dugaan pengusiran dan penghinaan terhadap wartawan oleh Kepala DLH Kabupaten Bekasi saat dikonfirmasi soal sewa alat berat di TPA Burangkeng. Melalui aksi damai dan penampilan seperti yang dilakukan Nur Islami, para wartawan berharap pejabat lebih menghargai peran pers sebagai pilar keempat demokrasi.

 

 

UCHI

Bagikan berita :