CIAMIS – Di tengah isu regenerasi petani yang kian sulit, seorang pemuda asal Tatar Galuh, Nurohman (28), membuktikan bahwa tanah Ciamis adalah ladang emas bagi mereka yang mau berinovasi. Melalui ketekunan dan sentuhan teknologi, Nurohman sukses mencatatkan rekor pribadi dengan memanen 3 ton melon premium kualitas ekspor.
Berikut adalah laporan mendalam mengenai perjalanan inspiratif sang “Sultan Melon” dari Ciamis.
Sentuhan Modern di Lahan Pedesaan
Lahan yang digunakan Nurohman terletak di Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Alih-alih menggunakan metode konvensional di lahan terbuka, ia membangun sistem Greenhouse modern seluas 400 meter persegi.
Metode yang digunakan adalah Smart Farming berbasis hidroponik dengan sistem irigasi tetes (drip irrigation). Dengan cara ini, nutrisi yang diberikan ke tanaman diatur secara presisi melalui alat pengontrol otomatis.
Proses Perjalanan: Dari Nol ke 3 Ton
Keberhasilan ini tidak didapatkan secara instan. Nurohman memulai langkahnya dengan:
* Penyemaian: Menggunakan benih melon varietas Inthanon dan Alisha yang dikenal memiliki tekstur renyah dan tingkat kemanisan (Brix) tinggi.
* Perawatan 75 Hari: Selama masa tanam, Nurohman fokus pada pengaturan suhu ruangan dan perlindungan dari hama lalat buah tanpa menggunakan pestisida kimia berbahaya.
* Penyortiran: Ia melakukan teknik one tree one fruit (satu pohon satu buah) agar seluruh nutrisi terfokus pada satu buah, menghasilkan berat rata-rata 1,5 kg hingga 2 kg per butir.
Kolaborasi di Balik Layar
Kesuksesan Nurohman merupakan hasil sinergi dari beberapa pihak:
* Nurohman: Sebagai otak penggerak dan teknisi utama.
* Komunitas Petani Milenial Ciamis: Wadah bertukar pikiran mengenai akses pasar dan teknologi.
* Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya: Melalui program kemitraan yang membantu penyediaan sarana prasarana awal.
* Dinas Pertanian Ciamis: Memberikan bimbingan mengenai standardisasi sertifikasi organik.
Potensi Ekonomi yang Menggiurkan
Dengan hasil panen mencapai 3 ton, melon milik Nurohman langsung diserap oleh pasar supermarket di Jakarta dan Bandung. Dengan harga jual di kisaran Rp25.000 hingga Rp35.000 per kilogram, omzet yang diraup dalam sekali panen (3 bulan) diperkirakan menembus angka Rp80 juta hingga Rp100 juta.
“Banyak anak muda malu bertani karena identik dengan lumpur. Saya ingin tunjukkan bahwa bertani bisa pakai gadget, baju bersih, tapi hasilnya luar biasa,” ujar Nurohman dengan bangga di sela-sela proses penimbangan.
Keberhasilan Nurohman kini menjadi magnet bagi pemuda lain di Ciamis untuk kembali melirik sektor pertanian sebagai profesi yang menjanjikan secara finansial.
S.i









